Setumpuk Kenangan

03:13


Hari Minggu kemarin, aku mengikuti acara pengumpulan barkas di Masjid sekitar rumahku. Katanya sih, sambil hasil yang terkumpul digunakan untuk menyumbang ke masjid di desa kecil, acara ini diadakan guna mempererat tali silaturahmi remais. Katanya. Alhamdulillah sekali, hari itu tali silaturahmi enam remaja masjid menjadi semakin erat.

Acara ini merupakan pengumpulan yang kedua dalam waktu sebulan terakhir. Hal itu dikarenakan pada pengumpulan terakhir, info tentang acara ini telat masuk ke kuping warga sehingga banyak barang bekas warga yang ingin disumbangkan tetapi belum dipacking. Alhasil, pengumpulan barkas kloter kedua ini pun menjadi lebih riweuh dibanding yang pertama dengan manusia yang minim.

Hari itu kami sedikit shock dengan jenis-jenis barang yang lumayan unik-unik yang masuk ke dalam mobil pickup (pinjaman) kami. Pagi hari itu, terdapat mesin cuci, tivi, dispenser dan lainnya yang resmi menjadi barang bekas yang disumbangkan..


Setelah barang turun dari mobil box pun ke-shock-an kami tidak berhenti (now playing: B2ST - Shock) lol. Diantara tumpukan baju, masih ada boneka-boneka unyu dan.... guess what? Jam tangan lengkap dengan box dan surat belinya yang di cap oleh toko jam ternama di Jogja yang dengan angkuhnya suka menjawab "disini mana pernah ngasih diskon" kepada pelanggan yang tanya perihal diskon (not me sih, tapi pernah curi dengar sewaktu cari kado disana. wkwk). Jam itu cuma minus baterai mati. Bodi masih mulus nggak ada karat. Pikiran kami langsung bertanya, apa nggak eman?

Jam seperti itu lazimnya menjadi kado untuk seseorang. Entah benar dulunya hadiah apa bukan, aku langsung membayangkan masa lalu jam tersebut. Dahulu jam itu, ketika masih hidup dan (mungkin) terbalut kertas kado, orang yang menerima pastinya menerima dengan wajah gembira. Bisa jadi dulunya ia adalah hadiah ulang tahun, ulang tahun perkawinan, hadiah dari bos, atau mungkin si pemberi hanya iseng saja dan cuma ingin memberi perhatian dengan bentuk jam itu. Ah.. Manisnya...

Belum puas berimajinasi, aku melirik barang-barang anak-anak yang entah kenapa mendominasi barang bekas pada pagi itu. Ada tas ransel dengan gantungan kunci berbentuk buku yang berisi kumpulan foto dua anak kecil manis yang dengan polosnya berpose di dalam foto box. Aku bertanya dalam hati, apa nanti sewaktu dewasa mereka tidak mencari gantungan kunci tersebut? Bisa jadi ketika sepuluh dua puluh tahun lagi mereka kuliah, bekerja, beranak, mereka lupa dengan sahabat kecil mereka, foto itu mungkin adalah saksi terakhir persahabatan polos mereka.......... Setega itu kah orang tua mereka membuang kenangan semanis itu?

Selain itu, ada setumpuk baju anak perempuan yang demi apapun adalah baju-baju anak perempuan termanis yang pernah aku lihat seumur hidupku. Bersyukurlah aku tidak punya anak atau adik perempuan, nggak jadi nyumbang deh tak tilep semuaaa! Baju-baju itu berbeda dengan baju-baju masa kecilku (seingatku sih, mengingat masa-masa aku pakai baju sekecil itu adalah..... 10 tahun lalu..... he...). 

Aku anak yang cenderung aktif sewaktu kecil, sehingga sebagus apa pun  bajuku, akhirnya akan kusam dan jahitannya lepas kemana-mana. Kebalikannya, baju yang kulihat pagi itu adalah baju manis yang bersih dan rapi. Satu-satunya tanda bahwa ia bukan baru dibeli adalah bau detergen kuat yang tercium. Ini pun menandakan bahwa si orang tua sangat telaten, setidaknya baju itu sekali pakai langsung masuk mesin cuci (yaelah mon, mbandingin kok sama mahasiswa yang ganti bajunya seminggu sekali banget sih.........) dan belum sempat kusam sudah tidak dipakai lagi, ada baju baru yang lebih manis sudah menanti mungkin? Tapi sayang sekali lima sepuluh tahun lagi ketika si anak sudah remaja mereka sudah tidak bisa bernostalgia dan mengobrol "eh, ini kan bajumu dulu sewaktu kecil inget ga kamu pakai ini waktu acara si oom terus kamu malah nangis kejer?" Sayang sekali.

Berbicara tentang barang kenangan....

Aku punya gantungan kunci couple yang tanpa malu dan tanpa harga diri aku beri pasangannya ke kakak kelas cowo jaman sekolah
Aku punya boneka panda raksasa yang menemani setahun aku menangis dan tertawa di kota yang ibuku tidak tinggal bersamaku disana
Aku punya mayat smartphone pertama yang terbeli setelah kuliah dan sewaktu hidup menemaniku chatting semalaman dengan teman-teman cowo yang kebetulan kalau tidak sudah ada cewe ya sudah tidak suka cewe

dan aku harus membagi kenangan-kenangan itu bersama orang yang komuknya aja aku tidak tahu? 


Kalau aku sih no, nggak tau kalau mas Anang.


yaallah mon ini jokes tahun berapa.....





Remais yang baper gegara barkas,

Mona


You Might Also Like

0 comments